jump to navigation

Udang Ketak Kuala Tungkal Ditangkarkan di Hongkong April 3, 2008

Posted by rico_bae in - Ekonomi.
Tags: ,
trackback

Jambi, Kompas – Lebih dari satu juta ekor udang ketak (manthis) asal Kuala Tungkal, Provinsi Jambi, akhir-akhir ini diduga ditangkarkan di Jakarta, Hongkong, dan Taiwan. Penangkaran dilakukan terhadap udang ketak atau udang ronggeng (Squalameteus SP) ukuran kecil, kurang dari tiga inci.

Pengumpul di Kuala Tungkal membeli udang ketak kecil hasil tangkapan nelayan dengan harga Rp 500-Rp 1.000 per ekor. Manthis kecil itu dari Kuala Tungkal dikirim ke Jakarta, kemudian diekspor ke Hongkong dan Taiwan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi Herman Suherman, Senin (26/7), mengungkapkan, penampungan atau pembelian oleh pengumpul terhadap udang ketak ukuran kecil tersebut sangat merugikan nelayan tradisional di Kuala Tungkal.

“Harganya sangat rendah. Apalagi nanti akan semakin jarang udang ukuran besar tertangkap. Jika penangkapan udang ketak ukuran kecil di pantai Tanjung Jabung Barat dibiarkan terus, sumber daya alam perikanan khas daerah ini akan punah,” ujar Herman.

Ia menambahkan, hingga kini Kuala Tungkal merupakan penghasil udang ketak atau manthis terbesar di Indonesia.

Disebutkan, pada awalnya ekspor manthis dari Kuala Tungkal masih dengan ukuran besar, yaitu ukuran A (sembilan inci), B (tujuh inci), dan C (lima inci). Lama-kelamaan, udang ketak ukuran kecil juga diekspor dan hal itu sangat mencemaskan.

Saat ini, harga udang ketak di tingkat nelayan di Kuala Tungkal, ukuran A Rp 25.000 per ekor, B Rp 12.000 per ekor, dan C Rp 5.000 per ekor. Sementara ukuran kurang dari tiga inci Rp 500 per ekor. “Kalau tidak akan dibesarkan atau ditangkarkan, untuk apa eksportir di Jakarta dan importir di Hongkong dan Taiwan mengimpor udang ketak kecil. Jelas belum layak dikonsumsi,” kata Herman menambahkan.

Dilarang

Dia mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat melakukan pelarangan penangkapan udang ketak ukuran kecil atau panjang kurang dari lima inci. “Saya harapkan, tahap awal bupati mengeluarkan pelarangan penangkapan udang ketak ukuran kecil di daerah itu. Selanjutnya, pelarangan itu harus dengan peraturan daerah,” ujarnya.

Tahun 2003, ekspor manthis dari Kuala Tungkal ke Hongkong dan Taiwan mencapai dua juta ekor. Jika harga rata-rata Rp 10.000 per ekor, artinya pendapatan nelayan udang ketak Kuala Tungkal Rp 20 miliar.

Bupati Tanjung Jabung Barat Usman Ermulan, yang dihubungi terpisah, menyatakan, ia sudah minta kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mengawasi penangkapan udang ketak ukuran kecil.

“Para pengumpul diminta agar tidak menampung udang ketak kecil yang ditangkap oleh nelayan. Nelayan diminta untuk melepaskan kembali ke alam, udang ketak yang kena jaring,” tandasnya. (nat)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: