jump to navigation

Menyelamatkan Petani Tanjung Jabung Barat April 3, 2008

Posted by rico_bae in - Ekonomi.
Tags:
trackback

SEPATUTNYA, petani kopi torabika dan robusta serta petani pinang di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, saat ini sedang berpesta ria. Sejak satu bulan lalu, mereka memasuki panen raya atau panen besar (musim buah lebat) kopi torabika dan pinang. Namun yang terjadi sebaliknya, mereka murung dan lesu karena harga kopi terus merosot dan pinang nyaris tidak ada harganya.

Harga biji kopi torabika di tingkat petani hanya Rp 8.500 per kilogram, robusta Rp 3.800 per kg, dan pinang Rp 1.500 per kg. “Tahun lalu harga kopi torabika masih bertengger pada angka Rp 12.000 dan kopi robusta Rp 5.000 per kilogram. Sedangkan, pinang sudah empat tahun harganya terus menukik, dari Rp 5.000-Rp 6.000, tapi kini hanya tinggal Rp 1.500 per kilogram,” kata Alek (42), pedagang besar hasil bumi di Kuala Tungkal, ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), 24 Juni lalu.

“Sungguh, saya tidak mengerti. Kenapa harga pinang terjun bebas? Kini saya punya persediaan pinang kering sekitar 150 ton, di antaranya ada yang sudah disimpan enam bulan. Tidak ada permintaan pinang dari pedagang di Kota Jambi, Padang, maupun Medan,” katanya lagi.

Menurut Alek, pemasok atau langganan, pedagang pengumpul tidak mau tahu karena mereka tinggal di parit-parit di desa. Meskipun rugi, pinang yang mereka bawa terpaksa dibeli, ditolak tidak mungkin.

“Di Kuala Tungkal ini, lain. Hubungan antara pedagang besar dengan pedagang pengumpul di desa sudah sedemikian rupa, layaknya seperti saudara sehingga tidak mungkin pinang yang mereka bawa tidak ditampung,” tutur Alek.

Dia mengungkapkan, karena harga jatuh-tidak sebanding lagi dengan biaya perawatan, panen, mengupas, dan mengeringkan-sejumlah petani pinang pernah datang kepadanya dan mengemukakan keinginan mereka untuk menebang pohon pinang dan menggantinya dengan tanaman lain.

“Keinginan petani itu saya cegah, jangan lakukan itu. Panen terus, bawa ke sini, walaupun murah tetap saya beli. Jadilah pinang menumpuk di gudang dan setiap hari lantai jemur penuh pinang untuk dikeringkan,” ujar Alek.

Di Kuala Tungkal sedikitnya ada lima pedagang besar hasil bumi. Produk perkebunan yang mereka tampung tidak hanya berasal dari Tanjabbar, tetapi juga dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur, seperti dari Kecamatan Mendahara, Dendang, dan Muaro Sabak.

Turunnya harga kopi dan pinang berdampak langsung pada kegiatan ekonomi rakyat di Tanjabbar, berupa merosotnya daya beli petani. Sebabnya, kebun kopi dan pinang, bersama dua komoditas lainnya-kelapa dalam dan karet-100 persen merupakan perkebunan rakyat. “Rencananya tahun ini saya akan membeli sepeda motor baru. Tetapi, karena harga kopi dan pinang turun, ditunda dulu,” kata Katijo (65), petani kopi dari Parit Tomo, Desa Teluk Sialang, Kecamatan Betara.

Namun demikian, sebagian petani kopi dan pinang sedikit tertolong karena juga memiliki tanaman kelapa dalam. Diversifikasi atau keanekaragaman tanaman menyelamatkan petani komoditas perkebunan Tanjabbar dari keterpurukan.

M Taher (52), pedagang pengumpul dari Mendahara Hilir, Tanjung Jabung Timur yang ditemui Kompas di Kuala Tungkal mengatakan, setiap kali datang ke Kuala Tungkal minimal ia membawa dua ton pinang kering dan 500 kg kopi.

Seorang pedagang pengumpul kopi dan pinang di Betara, Sunyoto (35), mengakui, ia membeli kopi dari petani dalam bentuk kopi basah dengan harga Rp 700 per kg. Umumnya, petani menghitung produksi kopinya dengan kaleng. Satu kaleng kopi basah 12 kg atau seharga Rp 8.400 per kaleng. Setiap hari ia bisa mengumpulkan sekitar dua ton kopi basah, kemudian digiling memecahkan kulit, dijemur, dan setelah kering digiling lagi untuk mendapatkan kopi biji.

Menurut Sunyoto, satu kaleng kopi basah akan jadi 1,2 kg kopi biji. Pinang dibeli dari petani sudah kering dengan harga Rp 1.500 per kg. “Baik kopi maupun pinang saya jual kepada pedagang besar di Kuala Tungkal. Pinang Rp 1.800 dan kopi torabika Rp 9.000 per kilogram,” ujar Sunyoto.

MESKIPUN harga kopi jatuh, namun nasib petani kopi di Tanjabbar belumlah terempas. Harga kopi-terutama kopi torabika-Rp 8.500 per kilogram masih cukup menguntungkan bagi petani, di samping adanya tanaman perkebunan lain. Katijo, umpamanya, mengaku, memiliki dua bidang kebun kopi dengan luas seluruhnya sekitar 3,5 hektar.

“Dari lahan yang dua hektar saya bisa dapat biji kopi sekitar 1.500 kilogram untuk enam bulan, dan dari lahan 1,5 hektar menghasilkan 800 kilogram atau seluruhnya 2.300 kilogram. Jika dijual dengan harga sekarang Rp 8.500 per kilogram, maka hasilnya Rp 19.55 juta,” ujarnya.

Namun, yang diterimanya hanya Rp 13,03 juta atau rata-rata Rp 2,17 juta per bulan karena dipotong upah petik dan ongkos angkut yang jumlahnya sepertiganya, yaitu Rp 6,51 juta.

Petani kopi lainnya, Misno (45) dari Parit Lapis, mengaku, punya lahan tiga hektar dengan produksi 1.500 kg untuk setiap panen besar tiga bulan sekali, atau 6.000 kg setahun. Hasil penjualannya Rp 51 juta. Namun, yang diterima Misno hanya Rp 30,60 juta atau rata-rata Rp 2,55 juta per bulan setelah dipotong ongkos angkut sekitar 40 persen.

Menurut Kepala Seksi Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) Kantor Camat Betara Marhalim, upah petik kopi berbeda-beda untuk masing-masing lokasi. Semakin buruk kondisi kebun, semakin mahal upah petik.

Di Parit Tomo, upah petik Rp 2.500 per kaleng kopi basah, ongkos angkut Rp 500 per kaleng, sementara di Parit Lapis ongkos petik Rp 3.000 dan upah angkut antara Rp 750-Rp 1.000 per kaleng.

Para petani kopi torabika di Tanjabbar umumnya memiliki ladang kopi lebih dari dua hektar. Banyak di antara petani yang memiliki empat hingga lima hektar, bahkan ada yang lebih. Sebagian besar petani memiliki mesin penggiling kopi dengan dua jenis gilingan.

Di Parit Tomo (45 keluarga) dan Parit Sialang (50 keluarga), hampir semua petani memiliki alat penggiling kopi yang digerakkan mesin diesel berkekuatan tujuh PK, sekaligus sebagai pembangkit listrik. Penduduk kedua parit ini tergolong makmur, rumah besar, punya televisi dan sepeda motor.

“Kopi torabika-petani menyebutnya dengan kopi besar-cocok dengan lahan di sini yang merupakan lahan gambut, tidak perlu dipupuk,” kata Ny Wachid (42). “Buktinya, tanpa dipupuk pohon kopi tetap berbuah lebat,” katanya.

Lahan yang dijadikan kebun kopi di Parit Tomo dan Parit Lapis bergambut dengan ketebalan bervariasi antara 50 hingga 100 cm.

KURANGNYA perawatan dan buruknya perlakuan terhadap kebun kopi oleh petani di Tanjabbar dan juga di Tanjung Jabung Timur menyebabkan produksi rata-rata kopi torabika dan robusta di daerah ini rendah, sekitar 500 kg per hektar setahun. Hanya di Parit Tomo dan Parit Lapis, Kecamatan Betara, yang produksinya cukup tinggi, mencapai 1.500 kg per hektar setahun.

Masud (70) dan Mustain (33) dari Parit IV Kemang Jaya, Desa Serdang Jaya, juga hidup sederhana, meskipun mereka masing-masing memiliki kebun kopi lebih dua hektar. Dengan produksi yang rendah, kesejahteraan petani sulit ditingkatkan. Apalagi jika harga kopi sedang anjlok.

Anjloknya harga kopi, meskipun petani di Tanjabbar terpukul, namun tidak telak. Kekurangan penerimaan bisa ditutupi oleh peningkatan produksi. Selama ini, karena lahan masih cukup luas, ada kebiasaan petani untuk meningkatkan pendapatan dengan cara membuka lagi ladang baru atau dengan perluasan areal.

Hal itu tidak hanya terjadi pada petani kopi dan pinang, tetapi juga pada petani kelapa dalam dan karet. Kenyataan di Tanjabbar, kepemilikan ladang yang luas di dua dan tiga lokasi yang berjauhan ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.

Yang banyak terjadi adalah ladang di dua atau tiga lokasi itu tidak terawat dan produksinya rendah. Artinya, upaya peningkatan kesejahteraan tidak bisa dilakukan dengan memperluas kebun.

Karena lahan tidak pernah bertambah, yang terus bertambah hanyalah penduduk, seyogianya pemerintah turun tangan membenahi dan mengawasi pembukaan ladang di areal yang peruntukannya belum jelas (tidak bertuan). Pemerintah memberi penyuluhan dan motivasi kepada petani bahwa peningkatan kesejahteraan hanya bisa dilakukan dengan peningkatan produksi. Untuk itu, pemerintah memfasilitasi petani memperoleh benih yang baik, ketersediaan pupuk, penanganan pascapanen, dan akses ke pasar.

Katijo mengakui, dengan pemeliharaan dan perlakuan yang baik, produksi kopi torabika dan arabika petani di Tanjabbar bisa ditingkatkan menjadi rata- rata 1.500 kg, bahkan 2.000 kg per hektar setahun. Tanaman kopi yang tidak dirawat dan banyak semut, ujar Katijo, ongkos petiknya menjadi lebih mahal. “Di Parit Tomo, sudah ada pekerja yang minta bagi dua, bahkan ada pekerja yang tidak mau memetik karena kebunnya semak, pohonnya tinggi tidak pernah dipangkas, dan banyak semut.

Bupati Tanjung Jabung Barat H Usman Ermulan (52) mengatakan, untuk meningkatkan penerimaan petani kopi, pinang, dan kelapa dalam yang seluruhnya adalah produksi kebun rakyat, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat secara bertahap memperbaiki dan meningkatkan jalan dan jembatan ke sentra-sentra produsen kopi, pinang, dan kelapa dalam. “Dengan peningkatan infrastruktur ini diharapkan mendorong petani untuk memelihara dan merawat kebunnya sehingga produksi bisa meningkat,” tambah Usman.

“Sejumlah jalan ke sentra produksi komoditas perkebunan di Kecamatan Betara dan Pangabuan telah dilebarkan, ditimbun, dan ditingkatkan (dikeraskan). Dengan demikian, disparitas harga yang besar sebagai akibat dari tidak ada dan buruknya jalan bisa dikurangi,” katanya.

Sebagai contoh, saat angkutan ke sentra produksi menggunakan sarana transportasi air, dengan perahu melalui parit-parit kecil dan menunggu air pasang, beda harga kelapa di tingkat petani di desa dengan di pinggir jalan raya (jaraknya dua kilometer sampai lima kilometer) bisa mencapai Rp 200 per butir kelapa. Beda harga kopi di tingkat petani dengan di Kota Kuala Tungkal (jarak 30 km) mencapai Rp 2.000 per kilogram. (NASRUL THAHAR)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: